Jumat, 12 Desember 2014

Biografi Tokoh Masyarakat Ds. Gondang Kec. Subah Kab. Batang

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Di era globalisasi sekarang ini, memang banyak terdapat kemajuan-kemajuan dalam hal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) guna bersaing dengan kemajuan bangsa Barat. Namun disamping kemajuan dalam hal IPTEK, justru dengan adanya globalisasi moral penduduk Indonesia yang mayoritas Islam ini semakin merosot jika tidak pintar-pintar dalam memilah apa yang harus diterima dan apa yang harus dihindari dari globalisasi ini. Di sini peran pondok pesantren sangatlah penting bagi generasi muda khususnya bagi generasi Islam mendatang.
Dewasa ini sudah banyak pondok pesantren modern yang dibangun dengan megahnya dan banyak pula santri yang menuntut ilmu di dalamnya. Tak kalah dengan pondok pesantren modern, pondok pesantren salaf pun sangat berpengaruh dalam kehidupan baik di masa sekarang maupun masa mendatang sebagai generasi penerus Islam. Bahkan bukan hanya Kyai dan santri saja yang merasakan pengeruhnya, tetapi penduduk di sekitar pondok pesantren ikut merasakan betapa damainya jika akhlak dan moral tertata dengan rapi. Sebagaimana di Desa Gondang, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, di sana terdapat pondok pesantren yang digagas oleh Kyai Shobirin Al-Hafidz. Dengan gigih dan dengan ilmu beliau menggagas berdirinya sebuah Pondok Pesantren yang diberi nama “Al-Huda”. Pada bab selanjutnya akan diulas tentang Beliau Kyai Shobirin Al-Hafidz.

B.     PERMASALAHAN
1.      Bagaimana Riwayat Hidup Tokoh atau Pendiri Lembaga Pendidikan Islam?
2.      Bagaimana Pandangan Tokoh atau Pendiri Lembaga Pendidikan Tentang Pendidikan?
3.      Bagaimana Implikasi Teoritik dan Implikasi Empiriknya?


BAB II
RIWAYAT HIDUP PENDIRI PONDOK PESANTREN
“AL-HUDA” SUBAH-BATANG

A.    BIOGRAFI
Nama Beliau adalah Kyai Shobirin Al-Hafidz. Beliau lahir di Batang, lebih tepatnya di Desa Kemiri Kecamatan Subah pada tanggal 1 Januari 1967. Umur beliau sekarang baru 47 tahun dan beliau terlihat sehat. Beliau sangat ramah, humoris, dan santun terhadap masyarakat sekitar, namun beliau masih tetap terlihat berwibawa. Dengan sifat ramah dan humorisnya, beliau menyapa masyarakat dan tetangganya dalam kehidupan bermasyarakat. Tak enggan beliau ikut serta bergotong royong bersama penduduk sekitar. Dengan penuh santun beliau menyambut tamu-tamu yang sowan kepada beliau. Dan beliau sangat berwibawa dalam melakukan segala hal, apalagi ketika mendidik santri dan memberikan Tausiyah di pengajian umum.
Kyai Shobirin Al-Hafidz menempuh pendidikan formal sampai jenjang MTs, kemudian beliau melanjutkan menuntut ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur selama 10 tahun. Tentunya tak hanya kemudahan yang beliau dapatkan, namun berbagai tantangan pun beliau hadapi. Saat itu perekonomian keluarga beliau bukan tergolong menengah keatas, jadi dapat kita ketahui beliau tidak bergelimang harta saat di pondok pesantren tersebut. Beliau mengabdi pada pondok pesantren Tebuireng tersebut. Beliau hanya pulang ke rumahnya setahun sekali pada saat hari raya Idul Fitri. Berkat kegigihan dan perjuangan beliau inilah yang menghantarkan beliau pada posisi sekarang ini.
Setelah beliau pulang kembali ke kampong halaman yakni Desa Kemiri, tak lama kemudian beliau menikah dengan salah seorang putri dari Desa Gondang yang bernama Turyanah biasa disapa Ibu Tur. Setelah menikah dengan Ibu Tur beliau menetap di Desa Gondang. Beliau memiliki seorang putri dan seorang putra. Putri beliau bernama Annisatul Maghfiroh (sekarang sedang menempuh pendidikan Strata 1 di IAIN Walisongo Semarang prodi Muamalah) dan putra beliau bernama Adib Azka Najib (sekarang sedang dalam jenjang Pendidikan Dasar SD N Gondang 03).

B.     KARYA
Kyai Shobirin Al-Hafidz adalah seorang tokoh agama di Desa Gondang, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang. Beliau sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Huda. Selain sebagai pengasuh, beliau ikut serta terjun langsung dalam mengajarkan beberapa materi di pondok Al-Huda tersebut. Selain itu, tak jarang beliau di undang untuk memberikan Mauidhoh Hasanah dalam pengajian-pengajian umum baik di Desa Gondang sendiri maupun desa-desa dan kecamatan lain.
Pemikiran beliau untuk memajukan pendidikan agama Islam dijembatani dengan membangun Pondok Pesantren Al-Huda ini. Dengan berdirinya Pondok ini beliau memberikan kebebasan siapa saja yang mau nyantri tanpa melihat status sosial. Karena, pondok yang beliau bangun tidak memungut biaya apaun bagi santri-santri yang mau belajar disana. Di samping santri yang menetap di sana ada pula santri yang hanya datang pada sore hari dan pulang setelah selesai mengaji. Santri yang seperti itu biasanya bertempat tinggal tidak jauh dari pondok.

BAB III
PANDANGAN PENDIRI PONDOK PESANTREN
“AL-HUDA” TENTANG PENDIDIKAN

A.    DASAR PENDIDIKAN
Berawal dari rasa keprihatinan pada generasi muda yang sedikit demi sedikit mulai melupakan budaya timur dan jauh dari moral. Dasar pendidikan Kyai Shobirin Al-Hafidz dalam mendirikan pondok pesantren awalnya adalah rasa keprihatinan kepada masyarakat dan generasi muda di Desa Gondang. Selain itu beliau memegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah dalam melangsungkan pendidikan di Pondok Pesantren yang diasuh oleh beliau.



B.     TUJUAN PENDIDIKAN
Salah satu komponen utama dalam pendidikan adalah tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan lah yang akan menentukan arah dari pendidikan itu sendiri. Sedangkan tujuan utama Kyai Shobirin Al-Hafidz mendirikan Pondok Pesantren Al-Huda adalah mencetak generasi muda muslim yang Qur’ani.

C.     PENDIDIK
Pendidik pada hakikatnya adalah seseorang yang berilmu pengetahuan yang mumpuni serta mampu mendidik dan mengamalkan ilmunya. Pendidik di Pondok Pesantren Al-Huda ini diamanatkan kepada Ustadz dan Pengasuh, serta Santri yang dianggap ilmunya sudah mumpuni untuk mengajarkan ilmunya kepada adik-adik santri yang baru atau ilmunya masih dibawahnya.

D.    ANAK DIDIK
Anak didik adalah orang yang sedang belajar. Orang yang mencari ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman dan kepribadian yang baik untuk bekal hidupnya agar berbahagia di dunia dan akhirat dengan jalan belajar yang sungguh-sungguh. Serta orang yang sedang mencari jati dirinya untuk menjadikan dirinya sebagai manusia sejati.

E.     KURIKULUM (MATERI)
Kurikulum atau materi yang diajarkan dalam Pondok Pesantren Al-Huda tersebut adalah:
1.      Al-Qur’an. Materi ini adalah materi utama dalam pondok tersebut. Materi yang diajarkan dengan Al-Qur’an seperti: menghafal Al-Qur’an bagi yang belajar program Tahfidhul Qur’an, membaca Al-Qur’an dan menghafal jus 30 bagi yang belajar dalam program umum.
2.      Kitab. Pengajaran kitab dalam pondok ini berlaku bagi seluruh santri pada kedua program tersebut. Kitab yang diajarkan antaranya adalah kitab tentang akhlak dan kitab tentang fiqh.

F.      METODE
Ada beberapa metode pembelajaran yang digunakan dalam pondok tersebut, yakni:
1.      Metode Bandungan, yakni metode pembelajaran yang cara pengajarannya dilakukan dengan cara mendengarkan ceramah dan kadang Ustadz mengajukan pertanyaan kepada anak santri. Biasanya dilakukan dalam pembelajaran kitab.
2.      Metode sorogan, yakni metode pembelajaran yang cara pengajarannya dengan cara maju satu-satu. Biasanya metode ini digunakan dalam pembelajaran Al-Qur’an, baik yang menghafal atau pun membaca.

BAB IV
IMPLIKASI
A.    IMPLIKASI TEORITIK
Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, implikasi toeritik menyatakan bahwa pendidikan pondok pesantren sangat mendukung psikologi keagamaan seseorang. Dengan adanya pondok pesantren tersebut akan bertambah pula generasi yang berakhlak yang baik dan berasakan pada Al-Qur’an.

B.     IMPLIKASI EMPIRIK
Seperti yang tertera di atas, pondok pesantren ini sangat berperan dalam kehidupan baik kehidupan sekitar pondok dan masyarakat. Sesuai dengan realita sekarang ini, pondok pesantren mampu mengajarkan dan menghasilkan pemuda-pemuda khususnya generasi muslim yang berakhlakul karimah dan berpakaian sesuai dengan ajaran Islam. Kewibawaan dari pendidik pun sudah jelas terlihat dengan cara pengajaran yang dilakukan. Tentunya pendidik tidak diragukan lagi keilmuan dan akhlaknya terbukti dengan santri yang berakhlak baik dan berilmu, karena pastilah santri meniru kapribadian baik dari pendidik atau ustadz yang mengajarinya.

BAB V
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Kyai Shobirin Al-Hafidz adalah pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Huda. Pemikiran beliau tentang perlunya pendidikan Islami menjadi semangat beliau untuk hal ini. Beliau mendirikan pondok karena rasa keprihatinan moral dan akhlak pemuda khususnya. Aktivitas pembelajaran dilakukan sesuai dengan A-Qur’an dan Sunnah. Sedangkan tujuan pendidikan beliau adalah mencetak generasi muda muslim yang Qur’ani.
Sangat memungkinkan dengan adanya pondok pesantren akan mencetak generasi yang lebih berakhlak mulia dan bermoral. Sudah terbukti dengan adanya pondok itu menjadikan pemuda yang lebih baik dan lebih suka membaca Al-Qur’an dari pada sebelumnya. Masyarakat pun merasakan nyaman dengan adanya pondok pesantren tersebut.

B.     SARAN
Demikianlah tugas ini penulis susun. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam memilih kata. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Semoga dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca. Amiin...



Perkembangan Agama Islam di Asia Timur

I.                PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan zaman, agama Islam juga mengalami perkembangan. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa agama Islam pada mulanya hanya berada di kawasan Saudi Arabia saja, namun lama-kelamaan dengan berjalannya waktu, agama Islam pun semakin meluas dan menyebar ke seluruh penjuru dunia termasuk ke Asia Timur, khususnya Cina, Jepang, dan Korea. Islam juga mengalami perkembangan yang cukup pesat di sana. Di mana sebelum masuk ke negara-negara tersebut, masyarakatnya menganut agama Shinto dan Budha. Namun sesuai perkembangan zamannya, sebagian penduduk dari negara-negara tersebut akhirnya memeluk agama Islam sebagai agama mereka. Walaupun hanya bersifat minoritas saja. Untuk itu, dalam pembahasan makalah ini kami akan membahas mengenai bagaimana Islam di Asia Timur yang dikenal sebagai negara minoritas Islam.

II.             RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana sejarah dan perkembangan agama Islam di Cina?
B.     Bagaimana sejarah dan perkembangan agama Islam di Jepang?
C.     Bagaimana sejarah dan perkembangan agama Islam di Korea?

III.          PEMBAHASAN
A.       Sejarah dan perkembangan agama Islam di Cina
Islam sampai ke Cina melalui dua jalur perdagangan, pertama-tama melalui jalan laut, dan kemudian melalui jalur darat. Komunitas Muslim Cina telah meningkat terus-menerus bertahun-tahun melalui imigrasi, perpindahan agama dan perkawinan.
Sumber-sumber Cina Kuno melaporkan bahwa ekspedisi Arab datang ke Cina di tahun kedua pemerintahan Kaisar Yung Way dari Dinasti Tang; yaitu pada 31 H (651 M) di masa pemerintahan Khalifah Utsman. Orang-orang Muslim Cina percaya bahwa para anggota delegasi ini, yang berjumlah 15 orang, adalah orang muslim pertama yang memasuki Cina. Mereka percaya bahwa ekspedisi itu di bawah Saad Ibn Abi Waqqas, salah seorang sahabat Nabi. Delegasi datang ke Cina melalui laut, mendarat ke Kanton, kemudian melalui darat  pergi ke ibukota Shang-An (sekarang Sian) di mana mereka disambut oleh Kaisar dan diizinkan membangun sebuah masjid. Masjid ini diyakini sebagai masjid pertama di Cina, yang masih berdiri sampai sekarang. Ada juga sebuah masjid di Kanton, di atas kuburan Saad, ketua ekspedisi itu. Namun cerita ini belum diuji dengan sumber-sumber Arab, dan dapat dipastikan bahwa Saad Ibn Abi Waqqas meninggal di Madinah. Ini berarti bahwa ketua ekspedisi itu pasti Saad yang lain.
Tentara Muslim mencapai perbatasan Cina pertama kali melalui darat di masa Khalifah Walid dari Bani Umayyah. Al Hajjaj Ibn Yusuf Al Tsaqafi, Gubernur Irak pada waktu itu mengirim tentara Muslim di bawah pimpinan Qutaibah Ibn Muslim Al Bahili ke perbatasan Cina.  Tentara itu meninggalkan Samarkand (Uzbekistan) pada 93 H (711 M) dan memasuki Kashgar (Singkiang) pada 96 H (714 M). Kaisar Cina kemudian setuju membayar upeti kepada orang-orang Muslim sebagai tanda kesetiaan kepada Negara Muslim.
Hubungan perdagangan meningkat dengan pesat antara bangsa Muslim dan Cina. Perdagangan dijalankan pertama dengan jalur laut, kemudian ketika Kasghar menjadi bagian dari bangsa Muslim, melalui jalur darat. Kebanyakan pedagang adalah Muslim, dan umumnya dari Arabia dan Persia. Hubungan antara Cina dan bangsa Muslim di masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah terus menerus bersifat ramah dan hangat, saling tukar-menukar kedutaan dan delegasi. Pada 138 H (755 M) Kaisar Cina meminta pertolongan dari bangsa Muslim untuk memadamkan pemberontakan An-Lu-Chan. Khalifah memenuhi dengan mengirim pasukan terdiri dari 4.000 orang tentara Muslim yang berhasil mengalahkan pemberontak dan menetap di tanah Cina. Mereka mengawini wanita Cina, membangun keluarga Muslim, sehingga memberikan dukungan demografik yang kuat kepada komunitas Muslim pertama di Cina.[1]
Selama Dinasti Tang, orang-orang Muslim hidup makmur dan dihormati di Cina, banyak Kaisar yang memberikan perlakuan istimewa kepada mereka. Pemberian hak istimewa ini meningkat di bawah Dinasti Siung. Ada 86 delegasi dari Negara Muslim ke China antara 31 H (651 M) dan 604 H (1207 M). Sepanjang Dinasti Siung pos baru diciptakan, yaitu Direktur Jendral Laut di Kanton selalu dijabat oleh soerang Muslim. Sepanjang periode yang sama, penduduk Muslim meningkat dan terjadi perpindahan agama secara massal Suku Hsiung Nu.
Orang-orang Mongol di bawah Chingis Khan menyerbu China dan meruntuhkan Dinasti Siung. Kubilay Khan, anak Chingis membanagun Dinasti Yuan. Pada waktu itu tentara Mongol menaklukkan sebagian besar bagian Asia dari dunia Islam dan menghancurkan kekhalifahan Abbasiyah dan ibu kota Muslim, Baghdad. Namun akibat sampingnya adalah Pax Mongolica  yang meliputi bagian-bagian dunia Islam dan China dalam satu unit tunggal. Situasi ini membantu terjadinya perpindahan agama secara massal ke Islam, terutama para pembesar Mongol. Akhirnya orang-orang Muslim menjadi kelas terkemuka di seluruh Negara Mongol. Di periode ini pengembara Maroko Ibn Batutah mengunjungi China. Ia melaporkan bahwa “tiap kota China mempunyai kota Muslim di mana hanya hidup orang-orang Muslim, dalam kota-kota ini ada masjid dan lembaga-lembaga lain. Orang-orang Muslim sangat dihormati.”
(PUNCAK KEJAYAAN) Dinasti Mongol (Yuan) jatuh pada 1368 M, diganti oleh Dinasti Ming sampai 3 abad sampai tahun 1644 M. Muslim memencapai puncak kemakmuran pada periode ini. Pengaruh Islam pada Dinasti Ming pernah lebih besar dari Dinasti Mongol. Kaisar pertama dinasti itu, Ming Tsai Tsu, dan Kaisar wania  diperkirakan telah menjadi Islam. Kaisar Yung Lu (1405-32 M) menggunakan kalender Hijriyah sebagai kalender resmi China dan mengirim Duta Besar Muslim, Chung Hu, ke beberapa Negara Muslim untuk membangun hubungan yang hangat dengan mereka. Kebanyakan pejabat tinggi Dinasti Ming juga Muslim.[2]
Dinasti Ming dijatuhkan oleh Manchu yang membangun Dinasti Ching. Kebijakan opsesif (menekan) Dinasti Mancu, yang didirikan pada abad ke-17, mengakibatkan timbulnya banyak pemberontak Muslim. Pemberontakan yang sangat hebat terjadi di Propinsi Yunan dan Kansu. Haulung (1871) mampu menguasai wilayah yang sangat luas, sementara Yaqub Beg (1820-1877) berhasil membentuk pemerintahan yang memperoleh pengakuan saat kekuatan kerajaan China pulih kembali. Di Honan muncul perjuangan yang berakhir pada tahun 1953 dengan tujuan untuk mendirikan sebuah pemerintahan Islam yang merdeka.
Rezim peerintahan republic yang baru, yang bermula pada awal abad ke-20. Dalam pemerintahan Republik Rakyat Cina orang Muslim tidak diperlakukan sebagai satu “kelompok masyarakat”. Hanya kelompok etnik yang terdapat dalam komunitas Muslim yang memperoleh pengakuan langsung. Mereka dinyatakan sebagai “warga Negara minoritas”.[3] Tekanan dan kedzaliman yang dilakukan oleh pemerintah Cina semenjak tahun 1911 – 1949 dalam pemerintahan Republik Cina dan 1949 – sekarang oleh RRC membuat muslim uighur maupun muslim hui menjadi sangat gerah. Di Xinjiang, walaupun daerah tersebut sangat kaya dengan minyak dan pariwisatanya, namun penduduk uighur hidup dalam kemiskinan dan tekanan dalam ibadah mereka. Pemerintah Cina seolah-olah ingin mengatakan “Kami mau harta di Xinjiang tetapi tidak menginginkan orang-orang uighur”. Akumulasi tekanan dan penindasan inilah yang menjadi cikal bakal kerusuhan-kerusuhan di Xinjiang, termasuk terakhir yang terjadi 5 Juli 2009 lalu.
Tercatat sekitar 184 orang meninggal 1434 orang dipenjara dan 1680 lainnya terluka dalam bentrok aparat dengan muslim uighur. Dan yang lebih parah lagi, setelah kejadian itu, pemerintah Cina seolah membiarkan ketika kejadian ini berganti menjadi kerusuhan etnis. Setelah pemerintah dan aparat keamanan yang menghabisi etnis uighur, giliran suku Han yang dipancing untuk menghabisi etnis uighur, dan ini dibiarkan begitu saja oleh pemerintah Cina. Lebih menuakitkan lagi, sampai sekarang aparat Cina mengepung kota Urumqi dengan tentara yang sangat banyak dan melarang shalat jum’at bagi orang muslim uighur.[4]

B.        Sejarah dan Perkembangan Agama Islam di Jepang
Pada tahun 1890 terjadi peristiwa penting yang mempertemukan Jepang dan Islam. Peristiwa ini dikenal dengan “Kapal Entragul”. Sebuah kapal Turki singgah di Jepang dalam urusan diplomatic. Akan tetapi selama perjalanan pulangnya kapal tersebut karam. Dari 600 penumpang hanya 69 orang yang selamat. Pemerintah bersama-sama rakyat berusaha menolong penumpang yang selamat. Dan mengadakan upacara penghormatan bagi arwah penumpang yang meninggal. Kemudian yang selamat kembali ke Turki. Pada tahun 1891, dikirimlah utusan dari Turki ke Jepang dan terjalinlah hubungan yang baik antara Turki dan Jepang. Hal ini sangat menguntungkan bagi Jepang dalam melawan Rusia. Pada saat armada kapal Rusia melintasi laut Baitik, Turki memberitahukannya kepada Jepang. Sehingga Jepang memperoleh kemenangan dalam melawan Rusia.[5]
Islam diperkenalkan         di Jepang sekitar pergantian abad yang lalu oleh orang Tartar Muslim dari Imperium Rusia. Salah seorang pendakwah pertama, Abdul Rashid Ibrahim datang di Jepang pada tahun 1909. Setelah itu lebih banyak Muslim Tartar datang lebih banyak, kemudian  orang Jepang pindah agama ke Islam.[6] Orang Jepang yang pertama kali masuk Islam adalah Torajiro Yamada. Kemudian disusul oleh Mitsutaro Takaoka pada tahun 1909, yang kemudian mengganti namanya menjadi Omar Yamaoka setelah  pulang dari ibadah haji. Kemudian Bunpachiro Ariga tahun 1946, yang kemudian berganti nama menjadi Achmad Ariga, seorang pedagang yang mendapat pengaruh Islam dalam perjalanan ke India. Kemudian ada lagi nama Hilal Torajiro 1957, Yarullah Tanaka  Ippei 1934, dan lain-lain.
Islam di Jepang berkembang pesat saat berkecamuknya Perang Dunia II, kemudian satu lagi pada saat terjadi krisis minyak dunia. Islam mencapai puncak kejayaannya di Jepang pada tahun 1973, namun perkembangan Islam di Jepang tidak sama halnya dengan perkembangan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah yang berada di Timur Tengah. Islam di Jepang hanyalah Islam yang bersifat minoritas semata, jauh berbeda dengan Islam di Timur Tengah. Kalau pada masa Dinasti Abbasiyah, agama Islam berkuasa secara penuh dikarenakan semua penduduk menganut agama Islam, lain halnya dengan Islam yang  ada di Jepang yang hanya sebagian kecil penduduknya yang menganut agama Islam.
Setelah usainya krisis minyak dunia Islam pun kembali mulai dilupakan oleh masyarakat Jepang. Setelah itu agama Islam seolah-olah sulit berkembang di negara ini. Hal ini disebabkan oleh ketaatan masyarakat Jepang pada agama Shinto dan Budha.
Perkembangan agama Islam di Jepang pada saat ini sudah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Berdasarkan perkiraan Islamic Centre, jumlah pnganut agama Islam di Jepang sudah mencapai 70.000 sampai dengan 200.000 orang. Penganut Islam terbanyak adalah berasal dari luar Jepang. Menurut Michael Penn, dari total keseluruhan penganut Islam di Jepang hanya sekitar 10% yang merupakan berasal dari penduduk asli Jepang. Sedangkan 90% merupakan penduduk pendatang dari luar Jepang. Sebagian besar pemeluk agama Islam di Jepang adalah para pelajar dan para imigran dari negara-negara Asia Tenggara dan Timur Tengah. Mereka tersebar di  banyak tempat, seperti di Tokyo, Nagoya, Osaka, Kobe, dan tempat-tempat lainnya. Salah satu sebab agama Islam bisa berkembang di Jepang adalah karena bagusnya iklim toleransi yang ada di masyarakat Jepang. Dan adanya jaminan kebebasan beragama oleh pemerintah Jepang. Toleransi penduduk asli terhadap agama baru sangat tinggi. Misalnya saja: pada jamuan makan/minum selalu ditanyakan apakah ada yang berpantang terhadap daging atau minuman yang mengandung alkohol.
Di Jepang terdapat ratusan masjid, jumlah masjid yang terbanyak berada di daerah Tokyo.[7] Masjid pertama yang dibangun oleh orang Muslim di Jepang  adalah Masjid Kobe, yaitu pada tahun 1935. Kemudian pada tahun 1938 mereka membangun masjid Tokyo. Saat ini ada sekitar sepuluh asosiasi Muslim mengumpulkan komunitas di kota-kota sebagai berikut: Tokyo,Kyoto, Kobe, Naruta, Tokoshima, Sendai, Nagoya, Kamizawa.[8] Masjid terbaru sekarang adalah Masjid Gitu yang terletak di daerah provinsi Aichi.
Dakwah-dakwah dilakukan secara individual kepada keluarga. Dakwah-dakwah dilakukan secara rutin terhadap komunitas-komunitas  muslim di sini. Di negara ini terdapat beberapa organisasi Islam, diantaranya Japan Muslim Asociation dan Japan Islamic Congres. Negara ini pernah menyelenggarakan seminar internasional yang diselenggarakan oleh JIC (Japan Islamic Congres). Dengan adanya organisasi ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan agama Islam di Jepang. Organisasi ini menyediakan markas kegiatan sosial pendidikan dan markas sosial keagamaan. Organisasi keagamaan juga menyelenggarakan acara bersama dan juga diskusi untuk menambah pengetahuan keislaman. Selain itu acara ini juga efektif dalam membina persaudaraan sesama Muslim. Dengan adanya organisasi keagamaan ini merupakan salah satu upaya yang mendorong pengembangan agama Islam serta mengenalkan agama Islam secara lebih luas pada masyarakat Jepang dan cosmopolitan.[9]
Di masa kini ketika Jepang menjadi salah satu tujuan pendidikan, usaha dan wisata yang populer, banyaknya pekerja, pelajar dan wisatawan muslim turut mempengaruhi perkembangan Islam disana. Minister Sato, Wakil Duta Besar untuk Indonesia menyatakan: "Di Jepang pada tahun seribu sembilan ratus tiga puluhan (1930-an), hanya ada dua masjid, namun saat ini sudah terdapat lebih dari seratus masjid. Masyarakat Islam yang ada di Jepang, paling banyak orang Indonesia, kemudian orang Pakistan, Bangladesh, dan Iran. Pusat Islam dan Asosiasi Muslim Jepang di Tokyo menjadi pusat studi Islam dan Bahasa Arab bagi warga Jepang, yang banyak menarik perhatian warga muda Jepang. Saya percaya, akumulasi dari berbagai usaha yang kecil seperti ini, dapat memberi andil bagi dunia yang lebih damai."
Bandara-bandara internasional di Jepang berusaha menjadi lebih ramah kepada umat Islam dengan menyediakan fasilitas dan ruang ibadah di tengah kenaikan tajam pengunjung dari dunia Islam menyusul kelonggaran dari pemerintah Jepang tentang peraturan untuk mengeluarkan visa pada Juli 2013.
Kyoto, juga berencana menjadi kota yang ramah terhadap muslim. Pasca pembebasan visa pada Juli 2013, jumlah pengunjung muslim asal Malaysia ke Jepang meningkat dan mendorong pemerintahan di Kyoto mencari cara untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kyoto memiliki kelompok studi dibawah Asosiasi Muslim Kyoto. Asosiasi yang berdiri sejak tahun 1987 ini mengusahakan agar muslim dapat mengunjungi masjid dan beribadah di dalamnya, menyediakan ruangan dengan petunjuk arah kiblat, juga memberikan informasi terkait tempat-tempat makan halal yang di Kyoto.[10]
C.       Sejarah dan Perkembangan Agama Islam di Korea
Selama pertengahan abad ke-7, pedagang Muslim telah melintasi Asia Timur sejak Dinasti Tang dan membentuk kontak dengan Silla, salah satu dari Tiga Kerajaan Korea Pada tahun 751 M, seorang jenderal Cina keturunan Goguryeo, Gao Xianzhi, memimpin Pertempuran Talas untuk Dinasti Tang terhadap kekhalifahan Abbasiyah namun dikalahkan. Referensi paling awal ke Korea dalam kerja geografis non-Asia Timur muncul dalam General Survey of Roads and Kingdoms oleh Ibnu Khurdadbih pada pertengahan abad ke-9.
Kehadiran pertama Islam dapat diverifikasi di Korea berawal dari abad ke-9 selama periode Silla Bersatu dengan kedatangan pedagang dan navigator Persia dan Arab. Menurut banyak geografer Muslim, termasuk penjelajah dan ahli geografi Muslim Persia abad ke-9 Ibnu Khurdadbih , banyak dari mereka menetap secara permanen di Korea, mendirikan desa-desa Muslim. Beberapa catatan menunjukkan bahwa banyak dari pemukim berasal dari Irak. Catatan lain menunjukkan bahwa sejumlah besar dari Syiah faksi Alawi  menetap di Korea. Selanjutnya yang menunjukkan adanya masyarakat Muslim Timur Tengah di Silla adalah patung-patung wali kerajaan dengan karakteristik khas Persia.  Pada gilirannya, umat Islam banyak kemudian menikah dengan wanita Korea. Beberapa asimilasi ke Buddhisme dan Shamanisme terjadi, karena isolasi geografis Korea dari dunia Muslim.
Hubungan perdagangan antara dunia Islam dan semenanjung Korea dilanjutkan dengan kerajaan Goryeo sampai abad ke-15. Akibatnya, sejumlah pedagang Muslim dari Timur Dekat dan Asia Tengah menetap di Korea dan mendirikan keluarga di sana. Setidaknya satu klan utama Korea, keluarga Chang keluarga dengan tempatnya di desa Toksu, mengklaim keturunannya dari keluarga Muslim. Beberapa Muslim Hui dari Cina juga tampaknya telah tinggal di kerajaan Goryeo. Pada 1154, Korea termasuk dalam atlas dunia geografer Arab Muhammad al-Idrisi, Tabulla Rogeriana. Peta tertua dunia Korea, Kangnido, menarik pengetahuan dari Kawasan Barat dari karya geografi Islam.
Kontak kecil dengan masyarakat mayoritas Muslim, khususnya Uighur, berjalan terus dan semakin dekat. Satu kata untuk Islam dalam bahasa Korea, hoegyo berasal dari huihe, nama Bahasa Tionghoa tua untuk Uyghur. Selama akhir periode Goryeo, ada masjid di ibukota Gaeseong. Selama kekuasaan Mongol di Korea, Mongol sangat bergantung pada Uyghur untuk membantu mereka menjalankan kerajaan besar mereka karena keaksaraan Uighur dan Uighur berpengalaman dalam mengelola jaringan perdagangan yang diperluas. Setidaknya dua orang Uighur duduk di Korea secara permanen dan menjadi nenek moyang dari dua klan Korea.
Pada periode awal Joseon, penanggalan Islam berfungsi sebagai dasar untuk kalender karena reformasi untuk akurasi yang unggul di atas kalender Cina yang sudah ada.  Penerjemahan Korea dari Huihui Lifa, sebuah teks yang menggabungkan  astronomi  Cina dengan astronomi Islam, dipelajari di Korea di bawah Dinasti Joseon di masa Sejong yang Agung pada abad ke-15. Tradisi astronomi Cina-Islam bertahan di Korea sampai awal abad ke-19.
Namun, karena isolasi politik dan geografis Korea selama periode Joseon, Islam harus menghilang di Korea yang pada saat itu diperkenalkan kembali pada abad ke-20. Hal ini diyakini bahwa banyak praktik-praktik keagamaan dan ajaran tidak dapat bertahan. Namun, pada abad ke-19, pemukim Korea di Manchuria melakukan kontak kembali dengan Islam, ini menjadi Muslim Korea pertama pada zaman modern.
Catatan paling awal dari Muslim asli Korea berawal dari abad ke-19, ketika ada sebuah komunitas Muslim yang signifikan yang menempatkan dirinya di Manchuria. Kelompok ini meliputi keturunan pedagang Asia Tengah yang telah menetap di kota-kota Manchuria. Di sanalah warga Korea asli pertama kali datang untuk menerima Islam sebagai agama mereka. Namun, itu hanya setelah Perang Korea bahwa Islam mulai tumbuh secara signifikan di Korea. Islam diperkenalkan ke Korea oleh Brigade Turki yang datang untuk membantu Korea selama perang. Sejak itu, Islam telah terus tumbuh di Korea dan diadopsi oleh kalangan penduduk asli Korea yang cukup signifikan.
Pada tahun 1962, pemerintah Malaysia menawarkan hibah sebesar US$ 33.000 untuk sebuah masjid yang akan dibangun di Seoul. Namun, rencana itu gagal karena inflasi. Tidak sampai 1970-an, ketika hubungan ekonomi Korea Selatan dengan banyak negara Timur Tengah menonjol, menunjukkan bahwa minat terhadap Islam mulai bangkit kembali. Beberapa warga Korea yang bekerja di Arab Saudi masuk Islam, ketika mereka menyelesaikan masa tugas kerja mereka dan kembali ke Korea, mereka didukung sejumlah Muslim penduduk asli. Masjid Pusat Seoul akhirnya dibangun di Seoul lingkungan Itaewon pada tahun 1976. Saat ini ada juga masjid di Busan, Anyang, Gwangju, Jeonju dan Daegu. Menurut Lee Hee-Soo (Yi Hui-su), Presiden Korea Islam Institute, ada sekitar 40.000 Muslim yang terdaftar di Korea Selatan, dan sekitar 10.000 diperkirakan penganut yang sangat aktif.
Korea Muslim Federation (KMF) mengatakan akan membuka sekolah dasar Islam pertama bernama SD Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz pada Maret 2009 dengan tujuan membantu belajar tentang agama mereka melalui kurikulum sekolah resmi. Rencana sedang dilakukan untuk membuka sebuah pusat budaya, sekolah menengah dan bahkan universitas. Abdullah Al-Aifan, Duta Besar Arab Saudi di Seoul, menyerahkan $500.000 untuk KMF atas nama pemerintah Arab Saudi.
Jauh sebelum dibentuknya sekolah formal berupa SD, sebuah madrasah bernama Madrasah Sultan Bin Abdul Aziz, telah berfungsi sejak tahun 1990 dan di situlah anak-anak diberi kesempatan untuk belajar bahasa Arab, budaya Islam, dan Inggris. Banyak Muslim Korea yang mengatakan gaya hidup mereka yang berbeda membuat mereka lebih menonjol daripada yang lain dalam masyarakat. Namun, kekhawatiran terbesar mereka adalah prasangka yang mereka rasakan setelah serangan 11 September pada tahun 2001.[11]
                                                                                    
IV.          KESIMPULAN
      Islam datang ke Cina di tahun kedua pemerintahan Kaisar Yung Way dari Dinasti Tang; yaitu pada 31 H (651 M) di masa pemerintahan Khalifah Utsman. Muslim memencapai puncak kemakmuran pada masa Dinasti Ming. Kaisar pertama dinasti itu, Ming Tsai Tsu, dan Kaisar wania  diperkirakan telah menjadi Islam. Namun, pada rezim pemerintahan republik yang baru, yang bermula pada awal abad ke-20. Dalam pemerintahan Republik Rakyat Cina orang Muslim tidak diperlakukan sebagai satu “kelompok masyarakat”. Hanya kelompok etnik yang terdapat dalam komunitas Muslim yang memperoleh pengakuan langsung. Mereka dinyatakan sebagai “warga Negara minoritas”.
            Islam diperkenalkan    di Jepang sekitar pergantian abad yang lalu oleh orang Tartar Muslim dari Imperium Rusia. Salah seorang pendakwah pertama, Abdul Rashid Ibrahim datang di Jepang pada tahun 1909. Setelah itu lebih banyak Muslim Tartar datang lebih banyak, kemudian  orang Jepang pindah agama ke Islam. Orang Jepang yang pertama kali masuk Islam adalah Torajiro Yamada. Kemudian disusul oleh Mitsutaro Takaoka pada tahun 1909, yang kemudian mengganti namanya menjadi Omar Yamaoka setelah  pulang dari ibadah haji. Kemudian Bunpachiro Ariga tahun 1946, yang kemudian berganti nama menjadi Achmad Ariga, seorang pedagang yang mendapat pengaruh Islam dalam perjalanan ke India. Kemudian ada lagi nama Hilal Torajiro 1957, Yarullah Tanaka  Ippei 1934, dan lain-lain.
            Kehadiran pertama Islam dapat diverifikasi di Korea berawal dari abad ke-9 selama periode Silla Bersatu dengan kedatangan pedagang dan navigator Persia dan Arab. Menurut banyak geografer Muslim, termasuk penjelajah dan ahli geografi Muslim Persia abad ke-9 Ibnu Khurdadbih , banyak dari mereka menetap secara permanen di Korea, mendirikan desa-desa Muslim. Beberapa catatan menunjukkan bahwa banyak dari pemukim berasal dari Irak. Catatan lain menunjukkan bahwa sejumlah besar dari Syiah faksi Alawi  menetap di Korea. Selanjutnya yang menunjukkan adanya masyarakat Muslim Timur Tengah di Silla adalah patung-patung wali kerajaan dengan karakteristik khas Persia.  Pada gilirannya, umat Islam banyak kemudian menikah dengan wanita Korea. Beberapa asimilasi ke Buddhisme dan Shamanisme terjadi, karena isolasi geografis Korea dari dunia Muslim.

V.             PENUTUP
            Demikian makalah ini penulis susun. Pemakalah berharap kepada pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi lebih baiknya makalah selanjutnya. Semoga ini berguna bagi pemakalah pada khususnya juga para pembaca pada umumnya.





[1] M. Ali Kettani, Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005), hlm. 121-122.

[2] M. Ali Kettani, Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005), hlm. 124-126.

[3] Akbar S. Ahmed, Citra Muslim: Tinjauan Sejarah dan Sosiologi, (Jakarta: Erlangga, 2007), hlm. 121.
[4] http://felixsiauw.com/home/islam-in-china/, diakses pada Jum’at 24/10/2014 pukul 11:33WIB.

[6] M. Ali Kettani, Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005), hlm. 226.
[8] M. Ali Kettani, Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005), hlm. 226.
[10] http://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Jepang, diakses pada 18/11/2014 pukul  19:23 WIB.
[11] http://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Korea Diakses pada 18/11/2014 pukul 19:29 WIB.